Rabu, 10 Oktober 2012

ANALISIS GURINDAM 12

Pasal 1
Tema   : Agama
Makna : Pasal pertama berisi tentang agama karena Raja Ali Haji menempatkan agama sebagai hal yang terpenting bagi rakyatnya. Bagi beliau, orang yang tidak beragama tidak memiliki identitas diri. Untuk mencapai kesempurnaan, manusia harus mengenal yang empat (empat zat yang menjadikan manusia mula-mula). Orang yang mengenal Allah, melakukan perintah-Nya dan
Tema   : agama
Makna : Isi dari pasal kedua juga masih tentang agama. Semakin manusia mengenal Allah, maka semakin takut ia pada-Nya. Perintah-perintah-Nya wajib kita laksanakan, terutama yang menjauhi larangan-Nya, tidak akan berbuat salah. Kita dapat mengetahui kebesaran Allah lewat manusia, makhluk ciptaan-Nya yang paling sempurna. Manusia yang berorientasi pada kebahagiaan di dunia sebenarnya tertipu karena ia tidak menyadari kalau dunia fana sebenarnya merugikan.
Pasal 2
tercantum dalam rukun Islam, shalat, puasa, zakat, dan naik haji. Raja Ali Haji menanggap shalat sebagai pegangan hidup. Orang yang meninggalkan ibadah puasa akan kehilangan dunia dan akhirat, berarti Allah tidak akan menjaga orang itu. Harta dari orang yang tidak membayar zakat tidak diridhai oleh Allah. Orang yang tidak naik haji (apalagi bila ia mampu) tidak menyempurnakan janji sebagai orang Islam.
Pasal 3
Tema   : menjaga diri
Makna : Dalam pasal ketiga, Raja Ali Haji mengingatkan betapa pentingnya menjaga anggota tubuh dari perbuatan-perbuatan yang tidak baik. Mata harus dijaga supaya tidak timbul keinginan-keinginan yang menyimpang. Telinga harus dijauhkan dari segala macam bentuk gunjingan dan hasutan. Orang yang menjaga omongannya akan mendapatkan manfaat. Tangan juga harus dijaga dari mengambil milik orang lain. Nafsu harus dijaga supaya tidak melakukan perbuatan yang tidak patut. Hidup harus dijalani penuh semangat. Jangan merugikan diri dengan melakukan hal-hal yang mubajir dan maksiat.
Pasal 4
Tema   : budi perketi
Makna : Raja Ali Haji berbicara tentang budi pekerti dalam pasal keempat. Hati adalah inti dari jiwa manusia. Hati yang dengki hanya akan merugikan diri sendiri. Berbicara harus dipikir supaya tidak celaka karenanya. Amarah adalah perbuatan sia-sia. Orang yang pernah berbohong, sedikit apa pun dustanya, akan terus tampak di mata orang lain sebagai pembohong. Orang yang paling celaka adalah orang yang tidak menyadari kesalahannya sendiri sampai harus dikatakan oleh orang lain. Sifat pelit akan menguras hartanya sendiri, berarti dengan menjadi dermawan justru harta kita akan bertambah (ditambah oleh Allah). Kelakuan dan kata-kata hendaklah selalu halus dan bersih.
Pasal 5
Tema   : karakter pribadi seseorang
Makna : Rangkap pertama pada pasal kelima bermakna orang yang bersifat baik tampak dari perbuatannya. Orang yang mulia dan berbangsa dapat kita lihat dari perilaku dan tutur katanya. Orang yang bahagia adalah orang yang berhemat dan tidak melakukan perbuatan yang sia-sia. Orang yang pandai tidak pernah jemu untuk belajar dan memetik pelajaran dari hidupnya di dunia. Orang yang baik adalah orang yang dapat bersosialisasi dalam masyarakat.
Pasal 6
Tema   : budi pekerti
Makna : Melalui pasal keenam, Raja Ali Haji memberi tahu orang-orang seperti apa yang sebaiknya ada di sekitar kita. Carilah sahabat yang setia dan dapat membantu kita. Carilah guru yang serba tahu dan tidak menyembunyikan hal-hal buruk. Istri yang patut diambil adalah istri yang berbakti. Abdi (pengikut, pembantu, budak) yang baik untuk diambil adalah abdi yang berbudi.
Pasal 7
Tema   : budi pekerti
Makna : Pasal ketujuh juga berisi tentang budi pekerti. Orang yang banyak bicara memperbesar kemungkinan berdusta. Terlalu mengharapkan sesuatu akan menimbulkan kekecewaan yang mendalam saat sesuatu itu tidak seperti yang diharapkan. Setiap pekerjaan harus ada persiapannya. Anak harus dididik supaya tidak menyusahkan orang tua di kemudian hari. Orang yang gemar mencela orang lain bagaikan tong kosong yang nyaring bunyinya. Raja Ali Haji juga menghimbau orang untuk tidak malas dan menerima kabar dengan kepala dingin. Perkataan yang lemah-lembut akan lebih didengar orang daripada perkataan yang kasar. Orang yang benar jangan disalahkan (difitnah atau dikambinghitamkan).
Pasal 8
Tema   : pergaualan
Makna : Dalam pasal kedelapan, Raja Ali Haji berpesan kalau orang yang ingkar dan aniaya terhadap dirinya sendiri tidak dapat dipercaya. Orang yang egois selalu memamerkan kebaikan dirinya dan menyalahkan orang lain. Pujian tidak usah dibuat sendiri tapi tunggulah datangnya dari orang lain. Sifat-sifat jelek dalam diri kita jangan ditampakkan, begitu pula kebaikan-kebaikan yang telah kita perbuat. Kesalahan orang lain jangan diumbar dan kesalahan sendiri harus disadari.
Pasal 9
Tema   : budi pekerti
Makna : Dengan membaca pasal kesembilan, kita bisa tahu kondisi seperti apa yang membuat setan datang atau pergi. Manusia yang mengerjakan pekerjaan yang tidak baik diibaratkan sebagai setan. Perempuan tua yang jahat bagaikan pimpinan setan. Jangan menjilat pada raja. Para pemuda sering melakukan perbuatan maksiat. Laki-laki dan perempuan jangan bertemu dalam suasana yang mendorong perbuatan negatif seperti zina. Orang tua yang berhemat (hidup tanpa berbuat sia-sia) dan orang muda yang gemar belajar dijauhi oleh setan.
Pasal10
Tema   : berbakti pada orangtua
Makna : Kewajiban terhadap orang tua, anak, istri, dan teman dibahas dalam pasal kesepuluh. Anak harus hormat dan berbakti pada ayah-ibunya. Orang tua harus benar-benar mendidik anaknya supaya berhasil dan dapat menaikkan derajat mereka. Orang harus ingat kepada istri dan gundiknya supaya aib tidak tersebar dan tidak membuat malu. Kita juga harus adil terhadap teman.
Pasal 11
Tema   : tolong menolong
Makna : Kita hendaknya menolong sesama, terutama yang sebangsa. Kita harus membuang sifat-sifat buruk dan memegang amanat. Amarah sebaiknya ditahan untuk mendahulukan keperluan (hajat). Jangan mendahulukan diri sendiri, berarti kita harus antri. Bila ingin disukai orang-orang, kita harus membentuk sikap yang menyenangkan. Semua ini terangkum dalam pasal kesebelas.
Pasal 12
Tema   : budi pekerti
Makna : Pasal yang kedua belas atau pasal yang terakhir membahas tentang kewajiban raja, orang yang berilmu, dan hikmah kematian. Hubungan raja dengan menteri adalah saling menjaga satu sama lain. Raja yang baik atau raja yang mendapat petunjuk dari Allah adalah raja yang adil terhadap rakyatnya. Orang yang berilmu dikaruniai oleh Allah dan dihormati orang lain. Bila manusia mengingat kematiannya nanti, ia akan lebih berbakti pada Allah. Orang yang tidak buta hatinya tahu kalau akhirat itu benar-benar ada.

Baca selengkapnya »

0 komentar:

Posting Komentar

berikanlah komentar yang baik dan berbahasa yang sopan

Copyright © Teja Note's 2010

Replaced Teja Genio